July 07, 2014
Pro dan Kontra Memiliki Suami yang Jadi Bapak Rumah Tangga Pro dan Kontra Memiliki Suami yang Jadi Bapak Rumah Tangga

Pria bekerja dan perempuan mengurus rumah, nampaknya bukan lagi sebuah pakem hidup berumah tangga di masa sekarang ini. Banyak juga pasangan yang mengganti peran tersebut. Si ayah lebih banyak menghabiskan waktu di rumah atau disebut bapak rumah tangga, dan ibu yang pergi bekerja.

 

Menjadi bapak rumah tangga bukan berarti suami adalah pengangguran, karena saat ini banyak juga pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah berkat hadirnya internet. “Bapak rumah tangga adalah bapak yang entah bekerja di rumah atau memang dia tidak bekerja, sehingga dia lebih banyak berada di rumah,” ujar Psikolog Anna Surti Ariani, Psi mendefinisikan stay home dad atau bapak rumah tangga, saat berbincang dengan Wolipop di kawasan Depok.

 

Sebenarnya tak ada yang salah jika suami menjadi bapak rumah tangga, namun tentunya pandangan masyarakat yang negatif sulit terelakkan. Namun tak perlu mendengar pendapat yang buruk itu selama suami masih menjalankan kewajibannya. Berikut adalah keuntungan dan kerugian ketika memiliki suami yang jadi bapak rumah tangga.

insert 3

Pro:

 

1. Lebih Dekat dengan Anak

Menurut Psikolog Anna Surti Ariani, Psi, perbedaan pola asuh yang terjadi lebih pada aktifitas yang dilakukan. Biasanya bapak cenderung lebih senang mengajak anak-anaknya untuk melakukan aktivitas yang lebih aktif, seperti mengajak bermain di taman, berolahraga dan melakukan piknik bersama. Sedangkan ibu biasanya cenderung mengajak anak melakukan aktivitas yang santai dengan belajar bersama atau mewarnai.

 

Ketegas dalam pola asuh anak juga menjadi salah satu perbedaan yang terjadi. “Ibu kan sering kali kalo anaknya manja, lalu ibu mengalah sedangkan bapak biasanya akan lebih tegas dalam bertindak dan bersikap,” ujar Psikolog Anna Surti Ariani, Psi saat wawancara bersama Wolipop di kawasan Depok.

 

2. Urusan Rumah Tangga Lebih Terurus

Ketimbang mengandalkan asisten rumah tangga, pria yang menjadi bapak rumah tangga bisa lebih diandalkan untuk mengurus rumah dan anak-anak.

“Dengan menjadi bapak rumah tangga, mungkin suami bisa membantu menggantikan mengurus semua keperluan rumah tangga dan mengasuh anak-anaknya,” ujar Psikolog Melly Puspita Sari, Psi, M, NPLm saat wawancara bersama Wolipop via telepon.

 

3. Keluarga Menjadi Lebih Harmonis

Dampak positif dalam pernikahan lainnya adalah membuat keluarga menjadi lebih harmonis. Akan tetapi ini terjadi, jika memang kedua pasangan tersebut memiliki pandangan yang sama dan mengambil keputusan dengan segala pertimbangan. Dengan pria yang menjadi bapak rumah tangga, mulai dari urusan rumah dan anak-anak menjadi lebih terkontrol. Si pria juga dapat meringankan beban istrinya dengan menggantikan sosoknya di rumah, sehingga semua menjadi lebih terkendali.

insert 1

Kontra:

 

1. Memicu Stigma Negatif

Memiliki suami sebagai bapak rumah tangga, mungkin belum begitu akrab di telinga sebagian besar orang. Sosok bapak rumah tangga ini juga tak jarang menimbulkan stigma negatif. Malas bekerja, tidak giat mencari nafkah atau menggantungkan hidup pada sang istri merupakan beberapa stigma yang kerap menempel pada pria yang sehari-harinya hanya berada di rumah. Meski tak pasti benar, tapi pandangan itu akan sulit dihilangkan dan dapat membuat suami kehilangan percaya diri.

 

2. Memicu Pertengkaran

Suami yang bekerja di rumah untuk mengurus anak dan mengerjakan tugas rumah tangga lainnya berpotensi memicu pertengkaran dalam keluarga. Hal ini biasanya sering terjadi pada pria yang memang malas bekerja. Karena sifat malas dan hanya ingin berleha-leha dirumah tanpa mau bekerja, tak jarang mengakibatkan urusan rumah tangga maupun anak-anak menjadi terbengkalai. Untuk itu coba bicarakan terlebih dahulu jika suami Anda ingin memutuskan menjadi bapak rumah tangga, buat kesepakatan hal-hal apa saja yang menjadi tanggung jawabnya di rumah.

 

“Pertengkaran dan kemarahan seperti ini justru membuat pernikahan menjadi tidak bahagia, bisa sampai berujung perceraian karena tingkat kualitas pertengkaran yang sering terjadi,” ujar Psikolog Anna Surti Ariani, Psi.,.

 

 

3. Perceraian

Dampak yang paling buruk terjadi untuk sebuah pernikahan adalah timbulnya perceraian. Biasanya terjadi karena istri yang tidak bisa menerima kondisi suami menjadi seorang bapak rumah tangga.

 

“Kalau istri yang cerdas dan berpikir ulang memiliki suami seorang bapak rumah tangga dan tidak bekerja, untuk apa dipertahankan terkecuali suami bekerja di rumah baru bisa dipertimbangkan,” ujar Psikolog Melly Puspita Sari, Psi, M, NPLm saat wawancara bersama Wolipop melalui telepon, Senin (21/04/2014).

 

Senada dengan Melly, kondisi suami yang tidak bekerja cukup berpotensi menyebabkan perceraian karena memicu meningkatkan frekuensi pertengkaran. “Ada beberapa yang tidak kuat dengan sering dan intens-nya pertengkaran sehingga menimbulkan pemikiran untuk bercerai,” ujar Psikolog Anna Surti Ariani, Psi.,

 

Sumber :

http://tinyurl.com/ncepwua

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments

    REcent News

    REcent Post

    Latest From Gallery